Kemudian menyerahkan celana pantai.“Mbak Iin, pasien menunggu,” katanya.Majalah lagi, ah tdk aq harus bicara padanya. Bokepindo Daripada suntuk diam dirumah, tadi malam aq menyeleseaikan kerjaan yg masih menumpuk. Ia tersenyum ramah. Ah bodoh. Aq tdk tahan. Untung ada tissue yg tercecer, sehingga ada alasan buat Iin.Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar gembira dari wanita yg menunggu telepon. Aq memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Aq pun segan memulai cerita. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Ah sialan. Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Ah sialan. Astaga. Lalu memeknya, basah sekali. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku. Tetapi, aq harus berani. Tdk akan hadir kesempatan ketiga.




















