Menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon. Bokepindo Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..!”Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Ayo..!“Mbak.., pahaku masih sakit nih..!” kataku memelas, ya sebagai alasan juga mengapa aku masih bertahan duduk di tepi dipan.Ia berjongkok mengambil sapu tangan. Aku duduk di tepi dipan. Kring..! Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Tapi belum tersentuh kepala juniorku. Tunggu apa lagi. Ke mana ia? Ia tidak bercerita apa-apa. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Alamak.., jauhnya. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Wien menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya.




















