Dartowan setelah menyelesaikan makan malamnya, duduk santai di sofa. telepon rumah berdering keras, membuyarkan lamunan keduanya yang sedang duduk dipinggir tempat tidur.“Halo…”, kata Dartowan. Bokepindo ayahmu… sungguh seorang pencinta yang ulung…”.“Memangnya penis ayah… besar ya bi?”, tanya Dartowan lagi.“Hush! Dartowan sudah duduk di kursi makan tapi menghadap pintu kamar Ningsih, menunggu saat pertama kali Ningsih keluar dari pintu kamarnya itu. ‘Pasti sudah mengering’, pikir Dartowan.“Sebentar dik, kayaknya sudah bisa dilihat nih hasilnya”, katanya pada Ningsih yang ikut-ikutan tertarik jadinya, ingin juga mengetahui kondisi kesuburan dirinya. Yang langsung dijawab Desrita…“Jangan minta maaf tante… aku melihatnya lama dari awal tadi… sungguh… aku berbahagia bersamamu tante… ayo kita hadapi papaku ini bersama-sama…”.Dartowan yang menyaksikan kedua perempuan cantik berbeda usia itu didepannya, menjawab santai ‘tantangan’ puteri kandungnya itu. Masih jelas dalam ingatannya, PRT pertama ayahnya itu bernama bi Nurasih, sejak Dartowan masih kecil selalu




















