Simak kisah lengkapnya berikut ini!Jakarta yang panas membuatku kegerahan di atas angkot. Ya sekarang..!” pintanya penuh manja.Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depan berdering. Bokepindo Bibirku melumat bibirnya.“Jangan di sini Sayang..!” katanya manja lalu melepaskan sergapanku. Napasnya tersengal. Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi. Si Junior melemah. Tapi masih terhalang kain celana. Hari itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yang datang, baru aku saja. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Semua orang bebas masuk asal punya uang. Ke bawah lagi: Turun. Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.“Ya sekarang Sayang..!” katanya.




















