Bahkan pengantinnya. Ia terkekeh. Bokep Kulit yang putih dan halus itu membuat darahku berdesir. Bibirnya berbisik-bisik tak karuan. Bibirku bergerak sendiri meraih bibirnya. Sejuta kesan yang tiada pernah lengkap diurai dengan kata-kata. “Nice,” ia berbisik di pipiku. Geliat dan keringat yang bercampur. Ia tertawa. Kupikir, mungkin masih ada kesempatan bagiku memperbaiki keadaan sebelum ia turun dari mobilku. Masih kudengar ia tertawa di belakangku. Jangan dulu…aahhkk…”
“Shiitt !!” erangku memaki, lalu melepaskan tubuhku dari pelukannya. Dengan gerakan yang mengesalkan, ia lalu mendorong tubuhku menjauh menggunakan kedua tangannya. Kenikmatan yang luar biasa, saat ia memainkan jemarinya di sana. “Jangan ! “Ini,” ucapku seraya menyodorkan gelas di tanganku. “Aku..,” desahku lagi. Kalau tidak kita sudahi saja.”
Kutatap ia dengan wajah berkerut. Jangan bergerak. Kurasakan sesak yang luar biasa. Tiba-tiba tangannya terulur lagi, menahan tubuhku. “Hey !” seruku. Lalu kubaringkan tubuhku di atas tubuhnya.




















