“Ayo sudah. Dalam keterkejutanku, ibu malah tersenyum. Bokepindo Ayah pun dengan busung dada sangat bangga dikatakan demikian.Duabulan setelah itu, giliran Suti melahirkan. Ya sudah. Perlahan diabangkit dan duduk di tengah berpegangan pada kedua sisi perahu.Kami tiba di pantai. Aku diam saja dan kembali menutup mataku. Jika sore Suti tidak ikut latihan pramua atau les, Suti selalu menemaniku ke laut. Kutarik Suti mendekatiku dan kukecup bibirnya, seperti apa yag dilakukan Lek Parto pada isterinya. Cairan kental meleleh di ujung lidahku. Ibu pun dirawat juga dengan diinjeksi dan diberi obat. Ibu datang dan naik ke perahu di kolopng rumah. Aku memenag letih, bukan mengakayuh perahu, tapi mengkayuh ibu agar anakkubisa aku sirami.Sehabis makan malam, aku duduk di teras rumah. “Bukan dik. Titit Mas, dimasuki ke dalam lubang tempikmu,” kataku.




















