Sampai-sampai kemana-mana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Bokeb Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?”Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Sungguh, baru kali ini aku melihat isteriku segirang ini.




















