Dengan cemas aku menantikan reaksinya.Menit demi menit berlalu hingga sudah 15 menit kulihat Mbak Nida masih tetap menonton. “Eee….nggak..nggak koq Mas, saya sudah bangun nih” kataku berusaha mencegah Mas Arif pergi.“Gangguin tidur kamu nggak ?”
“Ndak…ndak kok, masuk aja” kataku mempersilahkan. Bokep china Lama baru terdengar jawaban,
“Wa’alaikumussalam” jawaban Mbak Nida dari dalam kamar itu.Pintunyapun terbuka, kulihat Mbak Nida melongokkan kepalanya yang berjilbab itu dari celah pintu,“Ada apa ya ?” tanyanya. Lalu sekuat tenaga aku mendorong pinggulku berulang-ulang dengan cepat.“Akhhh….ooohhh….ohhh” suara Mbak Nida mendesah. “Silahkan duduk”Setelah aku duduk di kursi kantornya yang empuk itu, aku mulai mengajukan permintaan,“Ton, aku butuh bantuanmu”
“Oh, itu semua bisa diatur, bantuan apa ?”
“Aku butuh pekerjaan”
“Bisa, bisa, kamu mau kerja di mana ? temui teman saya, Toni, katakan Mas butuh pekerjaan, tahunya dari Budi”“Wah…kok rasanya kurang enak ya, seperti nepotisme saja” Mas Arif sepertinya keberatan.




















