Ketika aku terlena menatap kakinya, tiba-tiba aku dikejutkan oleh pertanyaan Mbak Lia..“Jhony, aku merasa bahwa kau sering melirik ke arah betisku. Mungkinkah mulai dari atas lutut hingga.., hingga.. XNXX Menarik nafas berulang kali. Ketika melepaskan gigitanku, kudengar tawa tertahan, lalu ujung jari-jari tangan Mbak Lia mengangkat daguku. Tapi mungkin karena latar belakang pendidikanku tidak cukup mendukung, management memutuskan merekrutnya. Apakah dugaanku salah?” Aku terdiam sejenak sambil tersenyum untuk menyembunyikan jantungku yang tiba-tiba berdebar. Kakinya mulus tanpa cacat. Karena sangat dekat, walau tersembunyi, dengan jelas dapat kulihat bayangan bibir kewanitaannya. Kami saling menatap. Terawat. Mengangkang. Pada saat itulah aku mendapat kesempatan memandang hingga ke pangkal pahanya. Sebelah lututku menyentuh karpet. Bila sedang berada di ruang kerjanya, diam-diam aku pun sering memandang lekukan pinggulnya ketika ia bangkit mengambil file dari rak folder di belakangnya.




















