Nafasnya tersengal. Bokeb Aq langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomornomornya. kataku.Iya ituYa ampun, aq membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas tempat tidur yg putih. katanya.Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Apalagi yg dapat tertinggal? Masih melongo.Tolong itu jendelanya direptin sedikit katanya lagi.Ini? Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Paling tdk ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.Mbak Iin.., gumamku dalam hati.Perlu tdk ya kutegur? Betisnya mulus ditumbuhi bulubulu halus. Kantorku tak lama lagi keliatan di kelokan depan, kurang lebih 200m lagi. Betulbetul keras. Kali ini dengan telapak tangan. Wanita muda itu sudah keluar sejak melempar celana pijit. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Ke bawah lagi: Tdk. Sekali. Bergantian Iin kini telentang.Pijit saya Mas..! Baru saja aq memasang ikat pinggang, Iin menghampiriku sambil berkata,Telepon aq ya..!Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yg disobek



















