Waktu itu… aku yang memintanya.”
“Ah?”Surabaya, Keesokan Harinya“Ray, si pemburu. Air mata mulai membasahi dadaku yang terbuka. Link bokep Kunikmati kehangatan liang kemaluannya saat batang kemaluanku menyesakinya, menggerak-gerakkan pinggulku, meresapi segala rasa yang dihadirkannya dalam sanubariku. Terkadang aku menyesal menyerahkan Chie kepadanya. “Bisnis,” Chie mendesah. Aku memang malas kuliah, aku harus mengakuinya. “Hallo?”
Hening sesaat merasuki suasana. Aku pun juga. “Iya.”
“Sungguh, Ray?” Chie mengangkat kepalanya, senyumnya mengembang di sela air mata yang mengaliri pipinya. “Kamu lebih serius, kan?” Jay menatap lekat pandangan mataku. Aku mengenalnya sejak pertama kali kuliah. Sibuk mendoktrin gadis-gadis tentang kenikmatan free-sex. “Untukmu?” senyumku sambil menatapnya. Si pemburu gadis-gadis perawan. Kutunggu saat-saat kepalannya menghajarku. Masih tetap larut dalam kesedihannya. Beginikah perasaanmu sesungguhnya? Jadi mereka mulai menyusun rencana.



















