Ayo..!Aku masih diam saja. Saya bisa masuk angin.” kata seorang wanita setengah baya di depanku pelan.Aku tersentak. Bokep jilbab Aku masih mematung. Ia menyentuhnya. Sial. Come on lets go! Hawin datang. Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita. Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Tetapi sejak tadi aku tidak melihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku.Ke mana ia? Bayar arisan. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon. Aku terlambat setengah jam.Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagian tepi celana dalam.Tapi belum tersentuh kepala juniorku. Kadang-kadang ketimun. Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Hawin menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih


















