“Mbak, jangan nyubit lagi Mbak, ampun Mbak..”, katau meminta belas kasihannya. Kurapatkan dadaku pada punggunya hingga bergesek. Bokepindo Berbaring nyaman, tubuh Iswani mulai bergoyang seirama dengan gerakanku.Seiring dengan goyangan tubuhnya, Iswani mendesah-desah, “Ssh.. “Pingin tahu rasanya?”, tanyanya dengan senyum menggoda dan menuju ke arahku. Kedua tanganku turut andil dengan segera menarik kedua pinggulnya agar liang kenikmatannya dapat segera kuterobos dengan juluran lidahku. Kuputuskan untuk bangun dan duduk termenung di kursi didalam kamar penginapan. “Tok, katamu kamu belum pernah punya pacar, benarkah?”, tanyanya yang langsung kujawab dengan anggukan sambil meniup kopi panasku agar agak dingin. Pikiranku berkecamuk soal pekerjaan yang akan kuhadapi sehari lagi dan sama sekali belum kusiapkan. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 5.42 pagi. Setiap baris rencana yang kucatat kubayangkan pula langkah-langkah kerja yang akan kulakukan.Setiap hal penting yang muncul dari bayanganku kutulis dalam jurnal.




















