Di bawah, di depan toko mulai ramai. Bokeb Haduh biyung. Ampuun! Orang kok tega ya ngomong seperti itu. Saya akhirnya sendirian di Ibukota, sepeninggal Simbok. Enak kan?”“Ahn…” desah saya karena keenakan pentil saya dimain-mainkan, akibatnya omongan saya sudah nggak terkendali,“Iya Juragan… saya suka dicium kayak tadi…”“Bener? Juragan ternyata tinggal sendirian. Duh, yang saya lakukan ini salah nggak ya? Dan sambil saya rebahan itu, tangan Juragan beraksi sangkutan terakhir kain saya di pinggang. Sampai nggak tega saya melihatnya. Kalau saja nggak ketutupan bedak, mungkin sudah kelihatan muka saya berubah merah seperti cabe.Juragan ketawa, badannya yang gendut itu sampai terguncang-guncang. Waduh? Bukannya sakit, malu, atau jijik, saya bahagia tiap kali badan Juragan bersatu dengan badan saya.*****Hampir setahun sesudah saya dan Simbok meninggalkan rumah untuk jadi penari jalanan di Jakarta, ada satu lagi kejadian yang ngubah hidup saya.




















