Hitam. Dadaku mulai berdegup lagi. Bokep india Nafasnya tercium hidungku. Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Atau mau gunting? Daripada suntuk diam di rumah, tadi malam aku menyelesaikan kerjaan yang masih menumpuk. Aku duduk di tepi dipan. Tidak pasang wajah perangnya.“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Bau tubuh wanita setengah baya yang yang meleleh oleh keringat. Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Bicara apa? Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuil tempat duduk.“Terima kasih,” ujarnya ringan.Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkan lagi, sehingga tidak perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar




















