Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Bokepindo Betul-betul keras. Aku tidak berpakaian kini. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Ia tidak lagi dingin dan ketus.Kalau saja, tidak keburu wanita yang menjaga telepon datang, ia sudah melumat Si Junior. Aku tiduran sambil baca majalah yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu. Ah sialan. Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Ia menikmati, tangannya mengocok Junior.“Besar ya..?” ujarnya.Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Toh, si setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya. Kring..!“Mbak Hawin, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah.




















