Saya merasakan bibir memek saya pun sudah basah. Bokepindo Saya kaget.“Ya, mengganggu kalau tidak dilepas,” katanya pula.Tanpa menunggu persetujuan saya, Par Bambang menggeser bagian atasnya. Dari balik kaosnya yang sudah kusam itu tampak dadanya yang berbulu. Ia menaikkan satu kaki ke atas kursi. Ia antusias sekali. Saya merasa berdosa padanya. Saat saya datang, ia juga masih pakai kain sarung dan singlet. Gemuk, perut buncit dan hitam.Begini ceritanya saya bertemu dengan pria itu. Menghayalkan banyak hal.Tentang jabatan di kantor, tentang anak, tentang hari esok dan juga tentang ranjang.Bila sudah sampai tentang ranjang itu, seringkali pula saya membayangkan saya bergumulan habis-habisan di tempat tidur. Tapi, jilatan Pak Bambang benar-benar membuat dada saya turun naik.




















